Pakan Ternak dari Bonggol Jagung Jadi Peluang Bisnis Menjanjikan, Limbah Panen Bernilai Ekonomi Tinggi
Pelitadigital.id – Pemanfaatan bonggol jagung sebagai bahan baku pakan ternak kini mulai dilirik sebagai solusi ekonomis sekaligus ramah lingkungan. Limbah pertanian yang sebelumnya sering dibakar atau dibuang ternyata memiliki kandungan nutrisi yang cukup potensial untuk mendukung kebutuhan pakan hewan ternak seperti sapi, kambing, domba, hingga unggas.
Di tengah meningkatnya biaya pakan dan tantangan musim kemarau yang sering menyebabkan kekurangan hijauan, pengolahan bonggol jagung menjadi silase fermentasi dinilai mampu menjadi alternatif strategis bagi petani maupun peternak. Selain menekan biaya produksi, peluang usaha dari limbah jagung juga disebut memiliki prospek bisnis yang cukup menjanjikan.
Limbah Jagung Melimpah, Potensi Bisnis Terbuka Lebar
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil jagung terbesar di Asia Tenggara. Dari total produksi nasional yang mencapai jutaan ton setiap tahun, sekitar 20 hingga 30 persen di antaranya berupa limbah pertanian seperti bonggol jagung.
Selama ini limbah tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, jika diolah melalui proses fermentasi yang tepat, bonggol jagung dapat berubah menjadi pakan ternak berkualitas dengan kandungan serat dan energi yang cukup baik.
Penggunaan silase berbahan bonggol jagung disebut mampu membantu efisiensi biaya pakan hingga 40 persen. Kondisi ini tentu menjadi peluang besar, terutama bagi peternak skala kecil dan menengah yang membutuhkan pakan tahan lama saat musim kemarau tiba.
Tidak hanya untuk kebutuhan dalam negeri, bonggol jagung cacah juga memiliki nilai jual untuk pasar ekspor. Di beberapa negara seperti Jepang, limbah jagung bahkan dimanfaatkan sebagai media tanam jamur dengan nilai ekonomi cukup tinggi.
Proses Pengolahan Bonggol Jagung Menjadi Pakan Ternak
Pengolahan bonggol jagung menjadi pakan ternak sebenarnya tidak terlalu rumit. Namun, proses fermentasi harus dilakukan secara tepat agar kandungan nutrisi tetap terjaga dan aman dikonsumsi hewan ternak.
1. Persiapan Bahan
Tahap awal dimulai dengan memastikan bonggol jagung berada dalam kondisi kering. Setelah itu, bonggol dicacah atau digiling hingga menjadi potongan kecil agar lebih mudah difermentasi.
2. Pencampuran Nutrisi
Bonggol jagung yang telah halus kemudian dicampur dengan beberapa bahan tambahan seperti:
- Dedak padi 10–30 persen
- Molase sebagai sumber energi
- EM4 untuk membantu fermentasi
- Air secukupnya hingga kelembapan mencapai 30–40 persen
Seluruh bahan diaduk hingga tercampur merata sebelum masuk ke tahap fermentasi.
3. Proses Fermentasi
Campuran bahan dimasukkan ke dalam drum atau kantong plastik tebal, lalu dipadatkan agar tidak ada udara masuk. Setelah tertutup rapat, bahan didiamkan selama tiga minggu hingga satu bulan.
Proses anaerob tersebut bertujuan meningkatkan kualitas nutrisi sekaligus membuat pakan lebih mudah dicerna ternak.
4. Teknik Amoniasi
Beberapa peternak juga menambahkan urea sekitar 3 persen untuk meningkatkan kandungan nitrogen dan protein. Metode ini dikenal sebagai teknik amoniasi dan cukup efektif dalam meningkatkan kualitas pakan berbahan limbah pertanian.
Kandungan Nutrisi dan Manfaat untuk Ternak
Bonggol jagung memiliki kandungan serat kasar cukup tinggi yang cocok untuk hewan ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba. Kandungan Neutral Detergent Fiber (NDF) pada bahan ini bahkan mencapai lebih dari 80 persen.
Meski kadar proteinnya relatif rendah, yakni sekitar 2,67 hingga 5 persen, kekurangan tersebut dapat diatasi dengan menambahkan bahan lain sebagai campuran nutrisi.
Pemanfaatan limbah jagung sebagai pakan juga membantu menjaga ketersediaan makanan ternak saat pasokan rumput terbatas, terutama di musim kemarau panjang.
Modal Usaha Relatif Terjangkau
Salah satu alasan bisnis pakan ternak berbahan bonggol jagung mulai diminati adalah modal awalnya yang relatif ringan. Untuk skala kecil, pelaku usaha hanya membutuhkan:
- Mesin pencacah sekitar Rp3 juta
- Drum fermentasi sekitar Rp1 juta
- Bahan baku dan tambahan fermentasi sekitar Rp500 ribu per batch
Dengan biaya produksi sekitar Rp2 juta per ton, hasil pakan fermentasi dapat dijual hingga Rp4–5 juta tergantung kualitas dan pasar.
Keuntungan bersih untuk usaha kecil pun disebut bisa mencapai Rp2–3 juta per bulan. Jika dikembangkan dalam skala besar, potensi bisnisnya tentu jauh lebih menjanjikan.
Solusi Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan
Selain memberikan keuntungan ekonomi, pemanfaatan bonggol jagung juga membantu mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembakaran limbah pertanian.
Konsep ini dinilai sejalan dengan pengembangan ekonomi sirkular karena limbah hasil panen dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk bernilai tambah.
Agar kualitas produk tetap terjaga, peternak disarankan menggunakan sistem penyimpanan rapat dan kemasan vakum agar pakan tahan hingga enam bulan tanpa ditumbuhi jamur.
Dengan peluang pasar yang masih terbuka luas serta bahan baku yang mudah diperoleh, pakan ternak dari bonggol jagung berpotensi menjadi solusi usaha berkelanjutan bagi petani dan peternak di Indonesia.





