Kisah Inspiratif Agus Kucir, Dari Wartawan Era Reformasi Menjadi Pengusaha Kuliner dan Properti di Pangandaran
Pelitadigital.id – Pandemi Covid-19 menjadi titik balik bagi banyak orang untuk menemukan peluang baru dalam kehidupan. Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang muncul akibat pandemi, sebagian masyarakat memilih beradaptasi dan membangun usaha mandiri. Salah satu sosok yang berhasil mengubah tantangan menjadi peluang adalah Agus Supriyatman, yang lebih dikenal dengan sapaan Agus Kucir.
Pria kelahiran Tasikmalaya, 17 Agustus 1971 tersebut kini dikenal sebagai pengelola Warung Lesehan Agus Kucir di Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Namun di balik kesuksesannya sebagai pelaku usaha kuliner dan properti, Agus memiliki perjalanan hidup panjang yang penuh perjuangan, termasuk kiprahnya sebagai jurnalis senior yang turut mengawal perjalanan sejarah berdirinya Kabupaten Pangandaran.
Mengawali Karier Jurnalistik di Era Orde Baru
Agus memulai karier jurnalistiknya pada penghujung era Orde Baru sekitar tahun 1997. Pada masa itu, profesi wartawan masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk regulasi dan birokrasi yang ketat di bawah pengawasan Departemen Penerangan.
Kariernya dimulai dengan meliput berbagai peristiwa di wilayah Cilacap sebelum akhirnya lebih fokus pada dinamika sosial, politik, dan pembangunan di kawasan Priangan Timur, khususnya Kabupaten Ciamis dan wilayah pesisir Pangandaran.
Dedikasi Agus dalam dunia jurnalistik semakin terlihat ketika ia aktif mengawal proses pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB) Kabupaten Pangandaran. Melalui media tempatnya bernaung saat itu, Koran Medikom, Agus terlibat dalam berbagai diskusi bersama sejumlah tokoh penting yang memperjuangkan pemekaran wilayah tersebut, termasuk Agun Gunandjar Sudarsa dan almarhum H. Adang Hadari.
Perjuangan panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika Kabupaten Pangandaran resmi berdiri pada 25 Oktober 2012 sebagai daerah otonom baru di Jawa Barat.
Menghadapi Masa Sulit dan Bangkit dari Keterpurukan
Perjalanan hidup Agus tidak selalu berjalan mulus. Pada awal tahun 2000-an, krisis ekonomi yang melanda Indonesia turut memberikan dampak besar terhadap kehidupannya. Kondisi tersebut bahkan berimbas pada persoalan keluarga yang harus dihadapinya.
Dalam situasi sulit tersebut, Agus tidak menyerah. Demi memenuhi kebutuhan hidup dan membesarkan anaknya, ia menjalani berbagai pekerjaan, mulai dari menjadi pengemudi ojek hingga berjualan bubur.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya yang membentuk karakter pantang menyerah. Meskipun sempat meninggalkan dunia jurnalistik, kecintaannya terhadap profesi tersebut kembali muncul ketika bencana tsunami melanda Pangandaran pada tahun 2006. Peristiwa besar itu membawanya kembali ke lapangan untuk melakukan peliputan dan memberikan informasi kepada masyarakat.
Pandemi Covid-19 Membuka Jalan Baru
Saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia, Agus melihat peluang baru di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ia kemudian memutuskan untuk membangun usaha kuliner yang mengedepankan konsep tradisional khas Sunda.
Warung Lesehan Agus Kucir hadir dengan konsep saung bambu yang menawarkan suasana pedesaan yang nyaman dan alami. Konsep tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin menikmati kuliner khas Sunda dalam suasana yang santai.
Berbeda dengan banyak restoran modern, Agus lebih memilih menyajikan makanan berbahan segar dengan cita rasa autentik yang mempertahankan kekayaan kuliner tradisional.
Menawarkan Kuliner Khas Sunda dengan Harga Terjangkau
Beberapa menu unggulan yang menjadi andalan di Warung Lesehan Agus Kucir antara lain Ikan Bakar Bumbu Honje (Kecombrang), Pindang Gunung dengan racikan bumbu tradisional yang dihaluskan secara manual, hingga berbagai olahan seafood seperti cumi asam manis dan cumi goreng tepung.
Untuk menjangkau wisatawan dari berbagai daerah, terutama dari Bandung dan Jakarta, Agus menerapkan sistem harga yang ramah di kantong. Berbagai menu ditawarkan dengan kisaran harga sekitar Rp25.000 hingga Rp30.000 per porsi.
Strategi tersebut dipilih agar pelanggan dapat menikmati kuliner khas Sunda tanpa khawatir dengan sistem harga berbasis kilogram yang sering dianggap mahal oleh sebagian wisatawan.
Merambah Bisnis Properti
Tidak berhenti di sektor kuliner, Agus juga mulai mengembangkan usaha di bidang properti melalui bisnis rumah kontrakan.
Saat ini, ia telah memiliki tiga lokasi kontrakan yang tersebar di wilayah Padaherang, yaitu Kontrakan Agus Kucir I dengan lima unit, Kontrakan Agus Kucir II dengan delapan unit, serta Kontrakan Agus Kucir III yang memiliki empat unit.
Ekspansi usaha tersebut menunjukkan bagaimana ketekunan dan kerja keras mampu membuka peluang baru di berbagai sektor ekonomi.
Tetap Aktif Berkontribusi untuk Masyarakat
Meski kini lebih dikenal sebagai pengusaha, jiwa sosial yang terbentuk selama menjadi jurnalis tetap melekat dalam dirinya. Agus aktif melakukan berbagai kegiatan sosial secara swadaya demi membantu masyarakat sekitar.
Beberapa kontribusi yang telah dilakukannya antara lain membantu pemasangan Penerangan Jalan Umum (PJU) di tiga wilayah RT di Kecamatan Padaherang. Selain itu, ia juga berinisiatif melakukan pengecoran jalan sepanjang sekitar 200 meter menuju fasilitas ibadah untuk meningkatkan kenyamanan dan aksesibilitas warga.
Menurut Agus, pembangunan daerah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif masyarakat dan para pelaku usaha.
Harapan untuk Pangandaran yang Lebih Maju
Sebagai seseorang yang turut mengikuti perjalanan panjang berdirinya Kabupaten Pangandaran, Agus berharap pemerintah daerah dapat semakin aktif merangkul pelaku UMKM sebagai salah satu penggerak ekonomi lokal.
Ia juga berharap para tokoh yang memiliki kontribusi besar dalam sejarah pembangunan Pangandaran mendapatkan apresiasi yang layak agar perjuangan mereka tetap dikenang oleh generasi berikutnya.





