Beranda Berita Glencore dan Rio Tinto Kembali Bahas Merger, Berpeluang Ciptakan Raksasa Tambang Dunia
Berita

Glencore dan Rio Tinto Kembali Bahas Merger, Berpeluang Ciptakan Raksasa Tambang Dunia

Glencore dan Rio Tinto Kembali Bahas Merger, Berpeluang Ciptakan Raksasa Tambang Dunia
Gambar : Liputan6

Pelitadigital.com – Dua perusahaan tambang global, Glencore dan Rio Tinto, kembali membuka peluang penggabungan usaha yang berpotensi membentuk perusahaan tambang terbesar di dunia. Wacana ini mencuat di tengah melonjaknya harga tembaga dan ketatnya persaingan global untuk mengamankan pasokan komoditas strategis tersebut.

Dilansir dari CNBC Indonesia, pembicaraan ini muncul hampir setahun setelah negosiasi serupa berakhir tanpa kesepakatan. Kedua perusahaan mengonfirmasi bahwa mereka masih berada dalam tahap “diskusi awal”, tanpa jaminan transaksi akan terealisasi. Meski demikian, pasar langsung merespons kabar tersebut dengan pergerakan saham yang signifikan.

Jika kesepakatan tercapai, entitas gabungan Glencore dan Rio Tinto diperkirakan memiliki nilai perusahaan lebih dari US$260 miliar atau sekitar Rp4.375 triliun. Skala tersebut dinilai akan mengubah peta industri pertambangan global, khususnya dalam perlombaan menguasai aset tembaga yang kian krusial bagi transisi energi dan pertumbuhan industri teknologi.

Dalam pernyataan terpisah, kedua perusahaan menyebut pembahasan mencakup berbagai opsi, mulai dari penggabungan sebagian hingga seluruh bisnis, termasuk kemungkinan merger berbasis pertukaran saham. Namun, belum ada kepastian terkait struktur transaksi maupun pihak yang akan menjadi pengendali utama. Dengan nilai perusahaan sekitar US$162 miliar, Rio Tinto secara ukuran dinilai lebih besar dibanding Glencore dan berpotensi menjadi pihak pengakuisisi, meski hal ini belum dikonfirmasi.

Reaksi investor terlihat kontras. Saham Glencore melonjak 8,8 persen di London setelah kabar pembicaraan dikonfirmasi. Sebaliknya, saham Rio Tinto justru melemah 2,4 persen di London dan turun tajam 6,3 persen di Bursa Australia. Perbedaan respons ini mencerminkan beragam persepsi pasar terhadap manfaat dan risiko merger bagi masing-masing perusahaan.

Tekanan untuk memperbesar skala usaha memang tengah meningkat di industri tambang global. Penggabungan Anglo American dan Teck Resources dari Kanada, yang dilakukan tanpa premi, menjadi sinyal bahwa konsolidasi kini lebih didorong oleh kebutuhan strategis ketimbang sekadar ekspansi agresif. Dalam konteks ini, tembaga menjadi fokus utama, seiring lonjakan harga yang pekan ini menembus rekor di atas US$13.300 per ton.

Analis memperingatkan bahwa tanpa percepatan investasi dan produksi, defisit pasokan tembaga global dapat mencapai 10 juta ton pada 2040. Kondisi tersebut mendorong perusahaan-perusahaan besar untuk mengamankan aset jangka panjang, sekaligus memperkuat portofolio mereka di tengah perubahan lanskap energi dunia.

Salah satu isu krusial dalam pembicaraan ini adalah masa depan bisnis perdagangan komoditas Glencore yang sangat besar. Belum jelas apakah unit tersebut akan disertakan dalam skema merger, padahal perdagangan merupakan pilar utama model bisnis Glencore. Selain itu, perbedaan pandangan terkait aset batu bara juga masih menjadi ganjalan.

Glencore, yang berbasis di Swiss, belakangan memosisikan diri sebagai perusahaan dengan fokus pertumbuhan tembaga. CEO Glencore, Gary Nagle, sebelumnya menyatakan ambisi untuk menjadikan perusahaannya sebagai produsen tembaga terbesar di dunia. Saat ini, Glencore berada di peringkat keenam produsen tembaga global dan tercatat sebagai produsen batu bara terbesar di bursa.

Rencana ekspansi Glencore, termasuk pengembangan tambang tembaga El Pachón di Argentina, ditargetkan mendorong produksi hingga 1,6 juta ton per tahun pada 2035, hampir dua kali lipat dari tingkat saat ini. Di sisi lain, Rio Tinto telah lama meninggalkan bisnis batu bara setelah menjual tambang terakhirnya pada 2018, sehingga dinilai enggan kembali terlibat dalam aset tersebut.

Perubahan internal di kedua perusahaan juga turut memengaruhi dinamika negosiasi. Rio Tinto kini dipimpin CEO baru, Simon Trott, yang mulai menjabat Agustus lalu dengan fokus pada efisiensi dan peninjauan aset. Sementara itu, Glencore telah merestrukturisasi bisnis batu baranya menjadi entitas terpisah berbasis di Australia, langkah yang dinilai memudahkan opsi pemisahan di masa depan.

Dalam enam bulan terakhir, saham Glencore naik 35 persen, sedangkan saham Rio Tinto menguat 41 persen, didorong kenaikan harga komoditas dan strategi bisnis masing-masing. Namun, arah akhir pembicaraan merger ini masih bergantung pada keputusan strategis dalam waktu dekat.

Berdasarkan aturan pengambilalihan di Inggris, Rio Tinto memiliki tenggat hingga 5 Februari untuk mengajukan tawaran resmi kepada Glencore atau menyatakan tidak berniat melakukannya. Tenggat ini menjadi penentu apakah wacana merger raksasa tambang tersebut akan berlanjut ke tahap konkret atau kembali berakhir tanpa kesepakatan.

Sebelumnya

Motorola Moto Pad 60 Pro, Tablet Android dengan Stylus dan Audio JBL

Selanjutnya

IHSG Sempat Terkapar di Sesi Siang, Sentimen Geopolitik dan Aksi Ambil Untung Jadi Pemicu

Pelitadigital.Id