AS dan Iran Sepakat Gencatan Senjata Dua Pekan, Tekanan Politik Dinilai Jadi Faktor Penentu
Pelitadigital.id – Amerika Serikat dan Iran akhirnya mencapai kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua pekan setelah konflik bersenjata yang berlangsung sejak 28 Februari 2026. Kesepakatan ini diumumkan pada Rabu (8/4), menyusul keputusan Presiden AS, Donald Trump, untuk menunda rencana serangan lanjutan terhadap Teheran.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Iran disebut akan mulai membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi global. Langkah ini diambil setelah Washington menyatakan menerima 10 poin tuntutan yang diajukan Teheran sebagai dasar negosiasi.
Dalam pernyataannya di media sosial, Trump menegaskan bahwa kesepakatan tersebut merupakan gencatan senjata dua arah.
“Ini akan menjadi GENCATAN SENJATA dua arah,” tulis Trump.
Ia juga menyebut keputusan tersebut diambil karena tujuan militer Amerika Serikat dinilai telah tercapai.
“Alasan kami melakukan ini adalah karena kami telah memenuhi dan melampaui semua tujuan militer, serta sudah sangat dekat dengan kesepakatan definitif terkait perdamaian jangka panjang dengan Iran dan perdamaian di Timur Tengah. Kami telah menerima proposal 10 poin dari Iran, dan menilai itu sebagai dasar yang dapat digunakan untuk bernegosiasi,” ujarnya menambahkan.
Di sisi lain, Iran memandang kesepakatan ini sebagai kemenangan diplomatik. Pemerintah Teheran menilai penerimaan atas tuntutan mereka menunjukkan posisi tawar yang kuat di tengah konflik.
Namun demikian, sejumlah pengamat menilai keputusan Washington bukan semata-mata karena keberhasilan strategi militer. Tekanan eksternal dan internal disebut turut memengaruhi langkah Gedung Putih.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, analis kebijakan luar negeri dari Quincy Institute, Trita Parsi, menyebut Trump berada dalam posisi sulit. Menurutnya, eskalasi konflik yang lebih luas berpotensi membawa dampak besar terhadap stabilitas politik dalam negeri AS.
“Ia sebelumnya melontarkan ancaman eskalasi, tetapi semua pihak di kawasan tahu bahwa jika Anda menyerang sumber energi dan pembangkit listrik Iran, maka Iran akan membalas dengan menyerang negara-negara Teluk Arab, dan kita akan menghadapi krisis energi yang jauh lebih buruk dari sekarang,” kata Parsi.
Parsi juga menilai langkah Trump menerima proposal Iran menunjukkan adanya kebutuhan untuk segera keluar dari tekanan geopolitik yang meningkat.
“Ia perlu keluar dari situasi ini. Ancaman-ancaman yang ia sampaikan sebelumnya bertujuan memberi kesan bahwa kesepakatan yang dicapai pada akhirnya merupakan hasil dari tekanannya,” ucap Parsi.
“Namun jika dilihat lebih dekat, tampaknya tidak demikian. Bahkan dalam pernyataannya sendiri disebutkan bahwa negosiasi akan didasarkan pada rencana 10 poin dari pihak Iran, yang justru merupakan proposal yang lebih rasional,” ujarnya menambahkan.
Sebelum kesepakatan tercapai, Trump diketahui sempat melontarkan berbagai ancaman terhadap Iran, mulai dari serangan militer lanjutan hingga opsi invasi darat. Bahkan, ultimatum keras sempat disampaikan menjelang tenggat waktu sebelum akhirnya gencatan senjata diumumkan di detik-detik terakhir.
Di dalam negeri, kebijakan militer Trump juga menuai kritik. Ia menghadapi tudingan penyalahgunaan wewenang karena melancarkan operasi militer tanpa persetujuan luas dari Kongres, meskipun disebut telah memberi informasi kepada kelompok “Gang of 8”.
Selain itu, gelombang desakan pemakzulan kembali mencuat seiring meningkatnya ketegangan dengan Iran sebelum tercapainya kesepakatan.
Dengan situasi yang masih dinamis, gencatan senjata dua pekan ini dipandang sebagai fase krusial untuk membuka jalan menuju negosiasi damai yang lebih permanen, sekaligus meredakan potensi krisis energi global akibat konflik di kawasan Timur Tengah.





