Beranda Bisnis Produksi Telur Nasional Tembus Rekor 6,3 Juta Ton, Manajemen Pakan Jadi Kunci Keberhasilan Peternak
Bisnis

Produksi Telur Nasional Tembus Rekor 6,3 Juta Ton, Manajemen Pakan Jadi Kunci Keberhasilan Peternak

Produksi Telur Nasional

Pelitadigital.id – Industri peternakan ayam petelur di Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang positif dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan produksi telur nasional menjadi indikator bahwa sektor ini masih memiliki prospek besar sebagai penopang kebutuhan pangan masyarakat sekaligus penggerak ekonomi peternakan.

Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), produksi telur ayam nasional pada tahun 2025 mencapai 6,3 juta ton. Angka tersebut menjadi capaian tertinggi sepanjang periode pencatatan dan menandai pertumbuhan signifikan dalam satu dekade terakhir.

Sebelumnya, produksi telur nasional tercatat berada di angka 5,6 juta ton pada tahun 2022. Jumlah itu kemudian meningkat dan stabil di kisaran 6,1 juta ton selama periode 2023 hingga 2024 sebelum akhirnya kembali naik pada 2025.

Di balik tren peningkatan tersebut, terdapat satu faktor utama yang menjadi penentu keberhasilan peternakan ayam petelur, yakni pengelolaan pakan yang tepat dan konsisten. Manajemen pakan dinilai memiliki pengaruh besar terhadap produktivitas ayam, kualitas telur, hingga efisiensi biaya produksi.

Kualitas Pakan Menentukan Produktivitas Ayam

Dalam fase produksi, ayam petelur membutuhkan asupan nutrisi lengkap untuk mendukung pembentukan telur secara optimal. Pakan yang diberikan harus memiliki daya cerna tinggi, bebas dari zat beracun, serta memiliki aroma dan warna yang mampu merangsang konsumsi ayam.

Secara alami, ayam petelur lebih menyukai pakan berbentuk butiran seperti crumble dan pellet karena lebih mudah dikonsumsi dibanding pakan berbentuk tepung atau mash. Namun, apabila peternak tetap menggunakan pakan jenis mash sejak fase grower hingga layer, diperlukan penanganan khusus agar konsumsi pakan tetap efisien dan tidak banyak terbuang.

Keseimbangan nutrisi dalam ransum juga menjadi faktor penting karena berpengaruh langsung terhadap kualitas cangkang telur, ukuran telur, serta daya tahan ayam selama masa produksi.

Pengaturan Tempat Pakan dan Air Tidak Boleh Diabaikan

Selain kualitas ransum, manajemen tempat makan dan minum juga memiliki peran besar dalam menjaga performa produksi telur. Jumlah wadah pakan harus disesuaikan dengan populasi ayam dan ditempatkan secara merata agar tidak terjadi persaingan berlebihan saat makan.

Ketinggian tempat pakan idealnya sejajar dengan punggung ayam agar konsumsi lebih nyaman dan pakan tidak mudah tercecer. Pengisian pakan juga dianjurkan tidak melebihi tiga perempat kapasitas wadah guna mengurangi pemborosan.

Sementara itu, ketersediaan air minum harus selalu terjaga setiap saat. Konsumsi air yang rendah dapat menurunkan nafsu makan ayam dan berdampak langsung pada penurunan produksi telur.

Kebersihan tempat pakan dan minum juga wajib diperhatikan. Peternak disarankan mencuci wadah minimal dua kali sehari serta melakukan desinfeksi secara berkala untuk mencegah kontaminasi bakteri dan penyakit.

Jadwal Pemberian Pakan Harus Konsisten

Ayam petelur dikenal sangat sensitif terhadap perubahan pola pemeliharaan. Oleh karena itu, jadwal pemberian pakan harus dilakukan secara konsisten pada jam yang sama setiap hari.

Pada fase grower dan layer, pemberian pakan idealnya dilakukan dua hingga tiga kali sehari, terutama ketika suhu lingkungan berada dalam kondisi nyaman. Pembagian porsi juga perlu diatur dengan tepat, yakni sekitar 30 hingga 40 persen diberikan pada pagi hari dan 60 hingga 70 persen pada sore hingga malam hari.

Strategi tersebut bertujuan memastikan ayam memiliki energi yang cukup untuk mendukung proses pembentukan telur yang umumnya berlangsung pada malam hari.

Recording Jadi Kunci Peternakan Modern

Dalam perkembangan peternakan modern, keberhasilan produksi tidak lagi hanya bergantung pada pengalaman peternak, tetapi juga pada pengelolaan data yang akurat.

Pencatatan atau recording menjadi bagian penting dalam manajemen usaha peternakan ayam petelur. Data seperti konsumsi pakan, sisa ransum, tingkat produksi telur, hingga biaya operasional membantu peternak mendeteksi masalah produksi lebih cepat.

Melalui recording yang dilakukan secara konsisten, peternak dapat mengevaluasi performa kandang, menekan potensi pemborosan, sekaligus menjaga produktivitas tetap optimal dalam jangka panjang.

Prospek Industri Ayam Petelur Masih Menjanjikan

Peningkatan produksi telur nasional hingga mencapai 6,3 juta ton menjadi bukti bahwa sektor peternakan ayam petelur di Indonesia terus berkembang dan memiliki prospek cerah ke depan.

Namun, tingginya produksi tidak terjadi secara instan. Keberhasilan tersebut sangat dipengaruhi oleh penerapan manajemen pakan yang tepat, mulai dari kualitas ransum, pengaturan jadwal pemberian pakan, ketersediaan air minum, hingga sistem pencatatan produksi yang terorganisir.

Dengan pengelolaan yang baik dan dukungan teknologi peternakan modern, sektor ayam petelur diperkirakan akan terus menjadi salah satu penopang utama ketahanan pangan nasional sekaligus sumber pendapatan yang menjanjikan bagi peternak di berbagai daerah.

Sebelumnya

Rupiah Sentuh Level Terlemah terhadap Dolar AS, Pemerintah dan BI Siapkan Langkah Stabilisasi

Pelitadigital.Id