Beranda Berita IHSG Anjlok 7,35%, BEI Sebut Kepanikan Investor Dipicu Pengumuman MSCI
Berita

IHSG Anjlok 7,35%, BEI Sebut Kepanikan Investor Dipicu Pengumuman MSCI

Gambar : Liputan6

Pelitadigital.id  – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Rabu (28/1/2026). IHSG ditutup melemah 7,35% ke level 8.320,55, bahkan sempat memicu kebijakan penghentian sementara perdagangan atau trading halt selama 30 menit setelah penurunan mencapai 8% di sesi II.

Pelemahan tajam ini terjadi tak lama setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) merilis pengumuman terkait penyesuaian metodologi free float serta potensi perubahan status pasar modal Indonesia. Sentimen tersebut langsung memengaruhi psikologis investor, khususnya pelaku ritel, yang merespons dengan aksi jual masif.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, menilai penurunan IHSG hari ini lebih dipicu oleh kepanikan pasar dibandingkan faktor fundamental. Menurutnya, informasi yang beredar terkait kebijakan MSCI belum sepenuhnya dipahami secara utuh oleh investor.

“Apa yang terjadi hari ini memang ada, menurut saya panic selling karena dua hal yang disampaikan yang jadi concern adalah, pertama untuk di bulan Februari rebalance-nya di-freeze. Jadi kalau kita terjemahkan apa yang disampaikan tidak ada penambahan atau pengurangan konstituen perusahaan tercatat kita di MSCI,” ungkap Iman Dikutip dari Detik, Rabu (28/1/2026).

Selain pembekuan rebalancing saham Indonesia pada Februari hingga Mei 2026, MSCI juga menyampaikan kemungkinan penurunan status pasar modal Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market apabila tidak terdapat perbaikan hingga batas waktu tersebut.

“Artinya kita mungkin sejajar dengan Vietnam dan Filipina. Kalau kita sekarang kan di emerging market sama dengan Malaysia,” jelasnya.

Kondisi tersebut turut berdampak pada saham-saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks MSCI Indonesia. Sejumlah saham unggulan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII), hingga PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) tercatat mengalami koreksi, bahkan sebagian menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB).

Meski demikian, BEI menilai kondisi pasar saat ini belum masuk dalam skenario terburuk. Proses komunikasi dan negosiasi dengan MSCI masih terus berjalan guna menjelaskan langkah-langkah perbaikan yang telah dan akan dilakukan otoritas pasar modal Indonesia.

Sebagaimana diketahui, MSCI menetapkan tiga kebijakan utama dalam indeks review Februari 2026, yakni pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), pembekuan penambahan konstituen baru dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta pembekuan perpindahan antar-segmen indeks ukuran.

MSCI menyatakan kebijakan tersebut bertujuan menekan tingkat perputaran indeks dan mengurangi risiko kelayakan investasi, sekaligus memberi ruang bagi otoritas pasar untuk meningkatkan transparansi. Jika tidak ada perbaikan hingga Mei 2026, MSCI akan mengevaluasi kembali akses pasar Indonesia, termasuk potensi reklasifikasi status pasar.

“MSCI akan terus memantau perkembangan di pasar Indonesia dan berkoordinasi dengan peserta pasar dan otoritas terkait, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan IDX. MSCI akan mengkomunikasikan tindakan lebih lanjut sesuai kebutuhan,” tulis MSCI dalam pengumumannya.

 

Sebelumnya

4 Tablet Murah Baterai Tahan Lama 2026, Solusi Kerja dan Hiburan Tanpa Ribet

Selanjutnya

Mengenal Komponen Body Kit Mobil; Fungsi dan Tips Pemilihan untuk Kendaraan Harian

Pelitadigital.Id