Rupiah Sentuh Level Terlemah terhadap Dolar AS, Pemerintah dan BI Siapkan Langkah Stabilisasi
Pelitadigital.id – Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan serius setelah menyentuh level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS), yang disebut sebagai titik terlemah sepanjang sejarah pergerakan mata uang nasional. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa stabilitas ekonomi domestik tengah menghadapi tantangan besar di tengah gejolak pasar global.
Merespons situasi tersebut, pemerintah bersama Bank Indonesia langsung menyiapkan berbagai langkah stabilisasi untuk menjaga kepercayaan pasar dan menahan tekanan terhadap rupiah agar tidak semakin dalam.
Tekanan Global dan Arus Modal Asing Jadi Pemicu
Pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi eksternal, penguatan dolar AS masih terjadi seiring kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Kondisi tersebut membuat investor global cenderung memindahkan dana mereka dari negara berkembang ke instrumen berbasis dolar yang dinilai lebih aman dan stabil. Akibatnya, arus modal asing keluar dari pasar keuangan domestik semakin meningkat.
Selain faktor suku bunga, ketidakpastian ekonomi global, tensi geopolitik, serta perlambatan ekonomi di sejumlah negara mitra dagang Indonesia juga turut memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
Situasi tersebut tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha. Pelemahan rupiah dapat menyebabkan kenaikan harga barang impor, termasuk bahan baku industri, produk elektronik, hingga komoditas pangan tertentu.
Jika kondisi berlangsung dalam jangka panjang, biaya produksi perusahaan berisiko meningkat dan mendorong kenaikan harga barang di tingkat konsumen. Selain itu, perusahaan yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS juga akan menghadapi beban pembayaran yang lebih besar akibat melemahnya nilai tukar rupiah.
Pemerintah Siapkan Dukungan untuk Stabilkan Rupiah
Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah siap mendukung langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia.
Menurutnya, koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasar keuangan nasional, khususnya di tengah tingginya volatilitas pasar global.
Purbaya menjelaskan bahwa pergerakan pasar obligasi memiliki hubungan erat dengan nilai tukar rupiah. Ketika pasar obligasi mengalami tekanan dan investor asing mulai menarik dana mereka, tekanan terhadap rupiah dapat semakin besar karena meningkatnya permintaan dolar AS.
“Kita akan kendalikan nilai, kita coba membantu nilai tukar. Kita bantu BI sedikit-sedikit, kalau bisa,” ujar Purbaya pada Selasa (12/5).
Andalkan Intervensi Pasar Obligasi
Sebagai bagian dari strategi stabilisasi, pemerintah disebut masih memiliki dana menganggur yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan intervensi di pasar obligasi. Langkah ini bertujuan menjaga yield atau imbal hasil surat utang negara agar tidak melonjak terlalu tinggi.
Pemerintah menilai lonjakan yield berpotensi memicu capital loss bagi investor asing yang memegang obligasi Indonesia. Jika kondisi tersebut terjadi, investor asing dapat melepas kepemilikan surat utang mereka dan menarik modal keluar dari Indonesia, yang pada akhirnya memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Purbaya mengatakan intervensi tersebut dilakukan agar pasar obligasi domestik tetap stabil dan menarik bagi investor.
“Kita kan masih banyak uang nganggur, kita intervensi bond market biar yield-nya nggak naik terlalu tinggi,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa skema intervensi yang tengah disiapkan memiliki konsep menyerupai buyback surat utang negara, meskipun detail teknis pelaksanaannya belum dipaparkan secara rinci.
Stabilitas Ekonomi Jadi Prioritas
Pelemahan rupiah hingga menembus level Rp17.500 per dolar AS menjadi pengingat bahwa stabilitas ekonomi nasional sangat dipengaruhi dinamika global. Karena itu, koordinasi antara pemerintah dan bank sentral dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan pasar dan mencegah tekanan berkembang menjadi krisis yang lebih besar.
Melalui kombinasi kebijakan fiskal dan moneter, pemerintah berharap stabilitas nilai tukar dapat kembali terjaga dan pasar keuangan domestik tetap kondusif di tengah ketidakpastian ekonomi dunia yang masih berlangsung.





