Aplikasi Navigasi Winatra Bantu Tunanetra Menemukan Arah di Dalam Gedung
Pelitadigital.id – Keterbatasan informasi saat berada di dalam gedung masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi penyandang tunanetra. Meski sejumlah fasilitas publik telah dilengkapi guiding block atau ubin pemandu, keberadaan jalur tersebut belum selalu mampu memberikan gambaran lengkap mengenai lingkungan di sekitar pengguna.
Persoalan inilah yang coba dijawab melalui aplikasi navigasi Winatra. Proyek berbasis Android tersebut dikembangkan sebagai aplikasi open source yang dirancang untuk membantu tunanetra menentukan arah ketika berada di lingkungan dalam ruangan, seperti kampus maupun gedung publik.
Winatra mengusung pendekatan yang tidak menjadikan tampilan visual sebagai sumber informasi utama. Sebaliknya, aplikasi berusaha menyampaikan informasi navigasi melalui suara sehingga pengguna dapat mengetahui arah perjalanan berdasarkan kondisi lingkungan di sekitarnya.
Winatra Hadir untuk Melengkapi Keterbatasan Guiding Block
Guiding block selama ini menjadi salah satu fasilitas penting dalam membantu mobilitas tunanetra. Jalur tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai arah perjalanan dan membantu pengguna mengikuti rute tertentu.
Namun, ubin pemandu memiliki keterbatasan dalam menyampaikan informasi yang lebih spesifik. Jalur tersebut tidak serta-merta memberi tahu pengguna mengenai lokasi sebuah ruangan, toilet, tangga, maupun posisi dirinya secara kontekstual terhadap bagian lain dari gedung.
Dalam situasi seperti itu, informasi suara dapat menjadi pelengkap yang lebih komunikatif.
Alih-alih sekadar menunjukkan sebuah garis perjalanan, sistem seperti Winatra dapat memberikan informasi yang lebih mudah dipahami melalui arahan verbal. Misalnya, pengguna dapat memperoleh petunjuk mengenai ruangan yang berada di sebelah kanan atau mendapatkan instruksi untuk berbelok setelah melewati koridor tertentu.
Dengan pendekatan tersebut, Winatra tidak dimaksudkan untuk menggantikan fasilitas yang sudah tersedia, melainkan memberikan lapisan informasi tambahan agar pengguna memperoleh gambaran lingkungan yang lebih lengkap.
Mengenal Cara Kerja Aplikasi Navigasi Winatra
Winatra masih berada dalam tahap pengembangan. Karena itu, aplikasi ini belum dapat diposisikan sebagai sistem navigasi yang sepenuhnya matang dan bebas dari kesalahan.
Sejumlah fitur masih menjalani pengujian dan penyempurnaan. Dalam penggunaan tertentu, sistem masih berpotensi mengalami kesalahan dalam memperkirakan posisi, kurang tepat mengenali ruangan, maupun tidak memberikan instruksi suara sesuai kondisi yang sedang dihadapi pengguna.
Kondisi tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengembangan karena navigasi di dalam gedung memiliki tingkat kompleksitas tersendiri. Setiap bangunan dapat memiliki struktur, kondisi sinyal, tata ruang, dan karakteristik lingkungan yang berbeda.
Mengutamakan Navigasi Berbasis Suara
Konsep utama yang ditawarkan Winatra adalah voice first, yakni menjadikan suara sebagai sarana utama dalam menyampaikan informasi navigasi.
Pendekatan ini sangat relevan untuk kebutuhan tunanetra karena peta visual berupa garis, titik, atau simbol tidak dapat menjadi satu-satunya media informasi yang efektif.
Informasi mengenai arah justru perlu diterjemahkan menjadi instruksi yang dapat dipahami secara auditori. Contohnya, pengguna dapat diarahkan untuk berjalan menuju koridor tertentu, mengetahui bahwa sebuah ruangan berada di sisi kanan, atau mendapatkan peringatan ketika harus mengambil keputusan di persimpangan.
Pengguna cukup menyampaikan tujuan yang ingin dicapai. Selanjutnya, sistem berusaha memperkirakan posisi pengguna dan menentukan arahan yang sesuai berdasarkan data lokasi serta peta bangunan yang tersedia.
Memanfaatkan WiFi, Sensor Ponsel, dan NFC
Untuk memperkirakan posisi pengguna, Winatra tidak bergantung pada satu teknologi saja. Aplikasi memadukan beberapa pendekatan positioning yang memiliki fungsi berbeda.
Salah satunya adalah WiFi fingerprinting. Metode ini memanfaatkan karakteristik jaringan WiFi yang terdeteksi di suatu area untuk memperkirakan posisi pengguna.
Data tersebut kemudian dapat dikombinasikan dengan dead reckoning berbasis sensor ponsel. Pendekatan ini membantu sistem memperkirakan perpindahan pengguna setelah berada pada titik tertentu dengan memanfaatkan informasi dari sensor perangkat.
Selain WiFi dan sensor, Winatra juga menyediakan NFC sebagai pendekatan tambahan. Tag NFC yang ditempatkan pada lokasi tertentu dapat berfungsi sebagai penanda posisi yang lebih pasti ketika pengguna berada di titik tersebut.
Kombinasi ketiga teknologi ini membuat sistem memiliki beberapa sumber informasi untuk menentukan posisi. Dengan demikian, Winatra tidak hanya mengandalkan satu metode yang berpotensi memiliki keterbatasan dalam kondisi tertentu.
Peta Gedung Disimpan Secara Lokal
Aspek lain yang menjadi bagian dari konsep Winatra adalah cara aplikasi menyimpan informasi mengenai bangunan.
Peta gedung direpresentasikan dalam bentuk graph dan disimpan melalui file JSON. Di dalam struktur tersebut, setiap titik dapat memiliki sejumlah informasi, antara lain label lokasi, data fingerprint WiFi, serta hubungan dengan titik-titik lainnya.
Model tersebut memungkinkan data peta disesuaikan dengan karakteristik gedung yang digunakan. Ketika aplikasi akan diterapkan pada bangunan lain, data pemetaan dapat diperbarui tanpa harus mengubah keseluruhan sistem aplikasi.
Penyimpanan secara lokal juga sejalan dengan konsep offline first yang menjadi salah satu pendekatan dalam proyek Winatra. Dengan pemrosesan lokal, sistem dapat dirancang agar tidak selalu bergantung pada koneksi internet maupun layanan berbayar.
Konsep tersebut juga berkaitan dengan pendekatan zero cost yang diusung proyek, sehingga teknologi yang digunakan diarahkan agar dapat dimanfaatkan tanpa ketergantungan pada infrastruktur layanan berbiaya tinggi.
Instruksi Suara Disesuaikan dengan Kondisi Perjalanan
Memberikan terlalu banyak instruksi suara juga dapat menjadi persoalan tersendiri dalam navigasi. Pengguna bisa justru merasa terganggu apabila sistem terus berbicara ketika arah perjalanan sudah benar.
Winatra mencoba mengatasi persoalan tersebut dengan membagi perilaku instruksi berdasarkan kondisi perjalanan.
Ketika pengguna masih berada di jalur yang benar, aplikasi dapat menggunakan silent mode. Dalam kondisi ini, sistem tidak perlu terus-menerus memberikan arahan sehingga pengguna dapat berjalan tanpa menerima informasi suara yang tidak diperlukan.
Ketika pengguna mencapai titik yang membutuhkan keputusan, instruction mode dapat digunakan untuk memberikan petunjuk. Sementara itu, apabila arah perjalanan mulai menyimpang dari rute yang seharusnya, correction mode dapat membantu memberikan arahan koreksi.
Pembagian tersebut bertujuan menjaga agar informasi suara tetap relevan. Pengguna tidak dibanjiri instruksi sepanjang perjalanan, tetapi memperoleh informasi ketika memang dibutuhkan.
Akurasi Navigasi Indoor Masih Menjadi Tantangan
Pengembangan sistem navigasi di dalam ruangan memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan navigasi di luar gedung.
WiFi, misalnya, memang dapat digunakan untuk memperkirakan posisi, tetapi tingkat akurasinya masih memiliki keterbatasan. Perubahan posisi router atau perubahan karakteristik jaringan dapat membuat data fingerprint yang sebelumnya dikumpulkan menjadi kurang relevan.
Kondisi lingkungan juga dapat memengaruhi sensor pada smartphone. Kompas yang digunakan untuk mengetahui arah dapat mengalami gangguan akibat karakteristik tertentu dari lingkungan bangunan.
Baca juga:





