Cara Budidaya Tanaman Sorgum agar Panen Maksimal, dari Persiapan Lahan hingga Ratun
Pelitadigital.id – Budidaya tanaman sorgum semakin mendapat perhatian karena tanaman serealia ini memiliki kemampuan beradaptasi pada kondisi lahan yang relatif kering. Karakter tersebut membuat sorgum berpotensi dikembangkan sebagai tanaman pangan alternatif sekaligus menjadi salah satu pilihan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan kering.
Sorgum berasal dari Benua Afrika dan dikenal memiliki daya tahan cukup baik terhadap kekeringan. Dengan pengelolaan yang tepat, tanaman ini dapat memberikan hasil yang optimal meskipun dibudidayakan pada wilayah yang tidak selalu memiliki ketersediaan air melimpah.
Persiapan Lahan Menjadi Tahap Awal Budidaya Sorgum
Keberhasilan budidaya sorgum tidak hanya ditentukan oleh benih yang digunakan. Kondisi lahan tempat tanaman tumbuh juga memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan akar dan batang.
Langkah pertama adalah membersihkan lahan dari gulma serta sisa-sisa tanaman sebelumnya. Pembersihan perlu dilakukan secara menyeluruh agar tanaman sorgum tidak harus bersaing dengan tumbuhan lain dalam memperoleh air dan unsur hara.
Setelah lahan bersih, tanah dapat diolah untuk memperbaiki strukturnya. Pada lahan yang memungkinkan dilakukan pengolahan mekanis, tanah dibajak sebanyak dua kali kemudian dilanjutkan dengan penggaruan satu kali.
Pengolahan tersebut bertujuan membuat tanah menjadi lebih gembur sehingga akar sorgum dapat berkembang dengan lebih baik.
Sementara itu, lahan yang mengandalkan residu air tanah tidak selalu membutuhkan pengolahan berat. Tanah dapat dicangkul secara sederhana. Cara tersebut sekaligus dapat membantu mengurangi penguapan air dari permukaan tanah.
Memilih Varietas Sorgum Sesuai Kebutuhan
Pemilihan varietas merupakan bagian penting dalam perencanaan budidaya. Petani sebaiknya menentukan terlebih dahulu tujuan penggunaan hasil panen sebelum memilih benih.
Untuk kebutuhan konsumsi pangan, beberapa varietas yang dianjurkan antara lain Keris, Badik, Numbu, dan Kawali. Penggunaan varietas yang sesuai dapat membantu menyesuaikan hasil produksi dengan kebutuhan akhir. Hal ini penting karena sorgum memiliki pemanfaatan yang cukup luas, mulai dari bahan pangan hingga pakan dan kebutuhan industri.
Kebutuhan benih sorgum untuk lahan seluas satu hektare berada pada kisaran 8 hingga 15 kilogram.
Menentukan Waktu Tanam Sorgum
Waktu penanaman juga perlu diperhitungkan dengan cermat. Berdasarkan kondisi budidaya yang disebutkan, waktu tanam yang baik adalah pada akhir musim hujan atau ketika memasuki awal musim kemarau.
Penentuan waktu tersebut berkaitan dengan ketersediaan air pada fase awal pertumbuhan. Tanaman memperoleh dukungan kelembapan dari sisa musim hujan, kemudian dapat berkembang ketika kondisi mulai memasuki musim kemarau.
Benih ditanam pada lubang tanam dengan kedalaman maksimal sekitar 5 sentimeter. Jarak antartanaman perlu dibuat teratur agar pertumbuhan tanaman tidak terlalu rapat.
Setiap lubang tanam dapat diisi sekitar 3 hingga 5 butir benih. Setelah itu, benih ditutup menggunakan lapisan tanah yang ringan.
Penjarangan Dilakukan Saat Tanaman Mulai Tumbuh
Benih yang telah ditanam akan mulai berkembang menjadi tanaman muda. Pada tahap ini, petani perlu melakukan penjarangan untuk mengatur jumlah tanaman dalam setiap rumpun.
Penjarangan dapat dilakukan ketika tanaman berumur sekitar 2 hingga 3 minggu. Dari tanaman yang tumbuh, sisakan sekitar dua tanaman yang paling sehat pada setiap rumpun.
Tanaman yang dipertahankan sebaiknya memiliki pertumbuhan yang baik dan bebas dari gangguan penyakit maupun kerusakan. Penjarangan membantu mengurangi persaingan antartanaman dalam memperoleh air, nutrisi, cahaya, dan ruang tumbuh.
Penyiangan dan Pembumbunan Tidak Boleh Diabaikan
Gulma menjadi salah satu faktor yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman budidaya. Karena itu, penyiangan perlu dilakukan secara berkala agar area sekitar tanaman sorgum tetap terkendali.
Kegiatan penyiangan dapat dilakukan bersamaan dengan pembumbunan tanah di sekitar pangkal batang.
Pembumbunan memberikan manfaat penting bagi tanaman. Tanah yang dikumpulkan di sekitar pangkal batang dapat membantu memperkokoh posisi tanaman sehingga tidak mudah roboh.
Selain itu, pembumbunan juga dapat merangsang pembentukan akar baru. Dengan sistem perakaran yang lebih baik, tanaman diharapkan mampu menyerap air dan unsur hara secara lebih optimal.
Pengairan Harus Disesuaikan dengan Fase Pertumbuhan
Meskipun dikenal tahan terhadap kondisi kering, sorgum tetap membutuhkan air pada fase-fase tertentu.
Pengairan terutama perlu diperhatikan ketika tanaman memasuki fase berdaun empat dan saat terjadi proses pengisian biji. Kedua periode tersebut menjadi fase penting yang membutuhkan dukungan air agar perkembangan tanaman berjalan dengan baik.
Namun, pemberian air tidak boleh dilakukan secara berlebihan. Kondisi tanah yang terlalu basah justru dapat menimbulkan persoalan baru, termasuk risiko pembusukan pada bagian akar dan batang.
Karena itu, pengairan harus disesuaikan dengan kondisi tanah, cuaca, serta kebutuhan tanaman di lapangan.
Pemupukan Mendukung Pertumbuhan dan Pembentukan Anakan
Selain air, unsur hara menjadi kebutuhan penting bagi tanaman sorgum. Pemupukan yang dilakukan secara teratur dapat membantu meningkatkan daya tahan tanaman sekaligus mendukung pertumbuhan dan pembentukan anakan.
Pemberian pupuk perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lahan dan fase pertumbuhan tanaman. Pemupukan yang dikelola dengan baik akan membantu tanaman memperoleh nutrisi yang dibutuhkan selama masa pertumbuhan hingga pembentukan biji.
Dengan demikian, pemeliharaan tanaman tidak hanya berfokus pada pengairan dan pengendalian gulma, tetapi juga memastikan kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi.
Sorgum Dapat Dipanen dalam Waktu 3 hingga 4 Bulan
Sorgum termasuk tanaman yang relatif cepat menghasilkan. Dalam kondisi budidaya yang sesuai, tanaman dapat dipanen ketika berumur sekitar 3 hingga 4 bulan setelah penanaman.
Petani dapat mengenali kematangan tanaman melalui sejumlah tanda fisik. Salah satunya adalah perubahan warna daun menjadi kuning.
Selain itu, biji sorgum yang telah matang akan terlihat bernas dan memiliki tekstur keras. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tanaman telah memasuki tahap yang sesuai untuk dipanen.
Pemanenan dilakukan dengan memotong tangkai malai. Bagian tangkai yang dipotong berada sekitar 15 hingga 25 sentimeter.
Penentuan waktu panen yang tepat penting dilakukan agar hasil yang diperoleh sesuai dengan tujuan pemanfaatannya.
Keunggulan Sorgum, Bisa Dibudidayakan dengan Sistem Ratun
Salah satu keunggulan sorgum dibandingkan tanaman pangan tertentu adalah kemampuannya untuk dibudidayakan kembali melalui sistem ratun atau ratoon.
Pada metode ini, batang tanaman yang tersisa setelah panen tidak seluruhnya dibuang. Bagian tanaman yang masih berada di lahan dapat dimanfaatkan untuk memunculkan tunas baru.
Tunas tersebut kemudian berkembang menjadi tanaman berikutnya sehingga petani tidak harus mengulangi seluruh proses pengolahan lahan dari awal.
Sistem ratun memberikan keuntungan dari sisi efisiensi. Biaya operasional dapat ditekan karena kebutuhan untuk mengolah lahan kembali menjadi lebih rendah.
Selain menghemat biaya, metode tersebut juga dapat mempercepat waktu menuju panen berikutnya. Dengan pengelolaan yang baik, sisa tanaman setelah panen pertama dapat menjadi sumber pertumbuhan untuk siklus produksi selanjutnya.
Baca juga:





