Artificial Intelligence

Aplikasi AI Lalita BRIN Bantu Identifikasi Asal Arca dengan Data 3D

Pelitadigital.id – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kini mulai dimanfaatkan untuk mendukung penelitian di bidang arkeologi. Salah satunya melalui aplikasi Lalita, sebuah inovasi yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk membantu peneliti mengidentifikasi kemungkinan asal sebuah arca.

Teknologi tersebut diperkenalkan dalam ajang IRIFair 2026 di Jakarta. Lalita dirancang untuk membantu proses penelitian dengan mencocokkan karakter wajah arca dengan kumpulan data yang telah tersedia secara digital.

Pemanfaatan AI dalam sistem tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan metode penelitian warisan budaya dengan dukungan teknologi digital. Dengan pengolahan data yang lebih terstruktur, peneliti dapat memperoleh bahan pembanding sebelum melakukan kajian arkeologis secara lebih mendalam.

Mengenal Aplikasi AI Lalita yang Dikembangkan BRIN

Lalita merupakan aplikasi berbasis kecerdasan buatan yang dikembangkan BRIN dan dirancang sebagai katalog interaktif untuk mendukung penelitian arkeologi.

Salah satu komponen penting dalam sistem ini adalah pemanfaatan data tiga dimensi (3D). Data tersebut menjadi bagian dari basis informasi digital yang dapat digunakan untuk melihat karakter fisik objek secara lebih terperinci.

Dalam penelitian arkeologi, bentuk, struktur, serta ciri fisik suatu artefak dapat memberikan informasi penting. Karena itu, keberadaan dokumentasi digital memungkinkan peneliti melakukan pengamatan terhadap objek dengan basis data yang lebih terorganisasi.

Lalita kemudian memanfaatkan data tersebut untuk membantu mencari kemungkinan hubungan antara sebuah arca dengan lokasi tertentu.

Memanfaatkan Dataset Tiga Dimensi untuk Penelitian

Dataset tiga dimensi menjadi salah satu bagian utama dalam pengembangan Lalita. Representasi digital dalam bentuk 3D memungkinkan objek arkeologi didokumentasikan dengan detail yang lebih lengkap.

Data tersebut tidak hanya berfungsi sebagai bahan visual. Dalam konteks penelitian, kumpulan informasi digital dapat menjadi sumber pembanding ketika peneliti ingin menganalisis karakteristik sebuah artefak.

Dengan tersedianya dokumentasi dalam bentuk digital, proses pengamatan juga dapat dilakukan secara lebih terstruktur. Peneliti memiliki basis data yang dapat digunakan kembali untuk penelitian maupun pengembangan analisis selanjutnya.

Lalita Membantu Mencari Kemungkinan Asal Arca

Salah satu fungsi yang menjadi perhatian dari Lalita adalah kemampuannya membantu mencari kemungkinan asal suatu arca.

Sistem bekerja dengan mencocokkan karakter wajah arca dengan data yang telah tersedia dalam basis informasi. Dengan pendekatan tersebut, sebuah objek dapat dibandingkan dengan sejumlah data dari lokasi yang berbeda.

Sebagai gambaran, data sebuah arca dapat dibandingkan dengan informasi yang berkaitan dengan Candi Borobudur maupun Candi Sewu. Lokasi lain juga dapat digunakan sebagai pembanding sepanjang tersedia dalam data penelitian yang digunakan oleh sistem.

Membantu Mengkaji Persebaran Artefak

Selain membantu pencarian kemungkinan asal arca, teknologi seperti Lalita juga dapat mendukung kajian mengenai persebaran artefak.

Ketika data dari berbagai objek dikumpulkan dan dianalisis secara terstruktur, peneliti berpeluang menemukan pola tertentu yang sebelumnya sulit terlihat jika data diperiksa secara terpisah.

Informasi tersebut dapat menjadi bahan untuk memahami hubungan antara artefak dengan wilayah tempat ditemukannya. Kajian lebih lanjut juga dapat diarahkan untuk melihat kemungkinan hubungan budaya atau pergerakan masyarakat pada masa lampau.

Dalam konteks ini, AI tidak menggantikan peran arkeolog. Teknologi berfungsi sebagai alat bantu untuk mengolah kumpulan data dan menemukan kemungkinan kecocokan yang kemudian dapat diteliti kembali secara ilmiah.

Dikembangkan Melalui Kolaborasi Lintas Bidang

Pengembangan Lalita tidak hanya melibatkan keahlian di bidang teknologi. Proses pengerjaannya juga melibatkan arkeolog Indonesia serta pihak museum di Belanda.

Kolaborasi tersebut penting karena sistem AI membutuhkan data yang tepat sekaligus konteks ilmiah yang memadai. Informasi mengenai artefak tidak cukup hanya berupa bentuk visual, tetapi juga berkaitan dengan sejarah, lokasi penemuan, karakteristik objek, dan konteks kebudayaannya.

Arkeolog memberikan pengetahuan mengenai artefak serta konteks sejarah dan budayanya. Sementara itu, teknologi kecerdasan buatan membantu mengolah data dalam jumlah besar serta mencari pola dan kemiripan berdasarkan parameter yang tersedia.

Perpaduan kedua bidang tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan teknologi digital untuk penelitian warisan budaya.

Aplikasi Lalita Masih dalam Tahap Pengembangan

Meski telah diperkenalkan kepada publik melalui IRIFair 2026, aplikasi Lalita masih berada dalam tahap pengembangan dan pengujian.

Saat ini, akses terhadap platform tersebut masih terbatas pada jaringan internal BRIN. Dengan demikian, aplikasi belum tersedia secara bebas bagi masyarakat umum.

Tahap pengujian diperlukan untuk menemukan berbagai kemungkinan kesalahan maupun keterbatasan sistem. Pengembang juga masih melakukan penyempurnaan agar fungsi aplikasi dapat semakin sesuai dengan kebutuhan penelitian arkeologi.

BRIN juga telah melakukan pendaftaran hak cipta untuk aplikasi Lalita. Langkah tersebut menjadi bagian dari pengelolaan hasil inovasi yang dikembangkan lembaga riset nasional tersebut.

AI Membuka Peluang Baru dalam Pelestarian Warisan Budaya

Pemanfaatan kecerdasan buatan dalam arkeologi menunjukkan bahwa teknologi digital dapat digunakan untuk mendukung bidang yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan.

Dokumentasi digital memungkinkan informasi mengenai artefak disimpan dalam bentuk yang lebih terstruktur. Data tersebut dapat menjadi bahan penelitian ketika objek memiliki informasi sejarah atau asal-usul yang belum sepenuhnya diketahui.

Kemampuan pencocokan yang dimiliki Lalita juga dapat membantu peneliti memperoleh sejumlah kemungkinan awal mengenai hubungan sebuah artefak dengan lokasi tertentu.

Meski demikian, teknologi tetap perlu ditempatkan sebagai alat bantu penelitian. Penentuan asal atau interpretasi terhadap sebuah artefak membutuhkan pemeriksaan ilmiah dengan mempertimbangkan konteks arkeologis dan sumber data lainnya.

Lalita Gabungkan AI, Data 3D, dan Kajian Arkeologi

Aplikasi AI Lalita memperlihatkan bagaimana kecerdasan buatan dapat diarahkan untuk mendukung penelitian warisan budaya. Sistem yang dikembangkan BRIN tersebut menggabungkan kecerdasan buatan, dataset tiga dimensi, dan pengetahuan arkeologi dalam sebuah katalog interaktif.

Kemampuannya dalam mencocokkan karakter wajah arca dengan data digital dapat membantu peneliti mengidentifikasi kemungkinan hubungan suatu artefak dengan lokasi tertentu. Data yang dihasilkan juga dapat menjadi bahan untuk mengembangkan kajian mengenai persebaran artefak.

Namun, Lalita masih dalam tahap pengujian internal sehingga kemampuan dan cakupan penggunaannya masih dapat berkembang. Hasil pencocokan sistem pun tetap membutuhkan verifikasi dan kajian lebih lanjut dari peneliti.

Jika terus dikembangkan dengan dataset dan konteks arkeologi yang memadai, teknologi seperti Lalita berpotensi menjadi salah satu alat pendukung dalam dokumentasi, penelitian, dan pelestarian warisan budaya Indonesia.

Baca juga:

Sebelumnya

Waspada Silent Call dan AI Voice Scam, Kenali Modus dan Cara Melindungi Rekening

Pelitadigital.Id